Mengapa Startup Edutech Populer Indonesia Belum Jadi Pilihan Utama Siswa ?

startup edutech Aplikasi edtech di Indonesia mengalami perkembangan pesat selama pandemi karena praktik belajar dari rumah yang diterapkan sekolah-sekolah. Meski nama-nama sejumlah pelaku edtech dalam negeri Ruangguru atau Zenius kerap menghiasi tajuk utama media massa, data di lapangan menunjukkan cerita berbeda.

Menurut App Annie, aplikasi edtech dengan jumlah unduhan terbanyak antara Juni-Agustus 2021 bukanlah Ruangguru atau Zenius. Posisi tersebut diduduki oleh Google Classroom, aplikasi yang mengizinkan guru terhubung secara virtual kepada para siswanya dengan membuat ruang kelas, membagikan tugas, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain.

Baik Ruangguru atau Zenius juga tak menempati posisi kedua dan ketiga. Posisi tersebut dipegang oleh Brainly dan Qanda, platform belajar yang masing-masing berasal dari Polandia dan Korea Selatan.

Data pihak ketiga lain yang menghitung jumlah pengguna aktif bulanan mengonfirmasi popularitas aplikasi-aplikasi asing tersebut di Indonesia. Di sisi lain, Ruangguru dan Zenius lebih unggul di angka jumlah pendapatan yang diraup, metrik yang juga tak kalah penting. Kedua perusahaan memang mengklaim mengalami lonjakan pendapatan selama pandemi.

Saat aktivitas belajar tatap muka di kelas-kelas mulai perlahan kembali, kita bisa mengantisipasi perubahan berikutnya. Sejumlah pengamat mengatakan bahwa kinerja perusahaan edtech selama pandemi tak bisa diambil mentah-mentah. Tak seperti industri pembayaran digital atau barang kebutuhan sehari-hari (e-groceries)yang tingkat adopsinya juga meningkat di masa pandemi, perkembangan edtech Indonesia setelah pandemi lebih sulit diperkirakan.

“Kita mungkin terlalu bergantung pada efek-efek pandemi,” ujar Yinglan Tan, Founding Managing Partner Insignia Ventures Partners yang mendanai startup edtech seperti Pahamify dan Edmicro dari Vietnam. “Startup edtech bisa memperoleh pertumbuhan lebih besar dengan memisahkan diri dari faktor pendorong eksternal seperti pandemi ketimbang bergantung padanya.”

Edutech yang terus berkembang

Brainly dan Qanda masing-masing mengincar kalangan siswa yang mencari jawaban untuk pekerjaan rumah mereka, serta tersedia di beberapa negara di seluruh dunia. Brainly dari Polandia sudah ada di Indonesia sejak lama, sementara Qanda (mesin jawaban matematika dari Mathpresso dari Korea Selatan), baru hadir di Indonesia di awal masa pandemi lalu.

Kedua perusahaan punya jajaran investor yang cukup ternama. Brainly didanai oleh kongolmerat Afrika Selatan Naspers dan General Catalyst dari Silicon Valley. Sementara itu Mathpresso didanai oleh SoftBank Ventures Asia dan GGV Capital untuk pendaan Seri C.

Keunggulan Brainly dan Qanda dibanding Ruangguru dan Zenius juga menjalar ke hubungan pengguna (engagement). Data pihak ketiga menunjukkan bahwa kedua aplikasi asing ini punya jumlah pengguna aktif bulanan yang lebih tinggi dibanding kedua pesaing lokalnya tahun lalu.

Angka terbaik untuk Ruangguru dan Zenius ada di periode Januari-Maret 2020 yang merupakan masa awal pandemi. Sementara itu Google Classroom masih jauh mengungguli semua platform lain dalam hal jumlah pengguna.

Tingginya metrik Brainly di Indonesia bukanlah hal baru. Platform ini sudah mendapatkan traksi yang tinggi sejak tahun 2014 dan berkembang secara konsisten, bahkan sebelum pandemi. Rajesh Bysani, Chief Product Officer Brainly, menekankan perkembangan perusahaannya terjadi berkat kehadiran fitur-fitur baru seperti Math Solver, teknologi solusi AI untuk panduan prosedural dan instan untuk soal matematika yang sulit.

Baca Juga  5 Startup EduTech Paling Favorit Di Indonesia Ternyata Bukan RuangGuru

Mirip dengan Brainly, traffic Qanda meningkat hingga 3.000 persen dari Maret 2020 ke Maret 2021. Menurut Business Development Manager Mathpresso Indonesia, Steven Cho, Angka pengguna aktif bulanannya naik dari 70.000 di April 2020 jadi 3,8 juta pada Oktober 2021.

Baik Brainly maupun Qanda mengatakan punya tim untuk meningkatkan engagement dan meningkatkan user experience.

Metrik positif dan yang lebih penting untuk Ruangguru dan Zenius adalah pengeluaran tiap pengguna. Menurut App Annie, pengeluaran seluruh pengguna aplikasi edtech di Indonesia mencapai US$1,9 juta (Rp27 miliar) antara Juni-Agustus 2021. Angka tersebut naik 20 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.

Jika mengacu pada angka tersebut, Ruangguru dan Zenius merupakan salah satu dari 10 terbaik. Ruangguru juga mengklaim bahwa perusahaan pertama kalinya menuai profit di tahun 2020. Jumlah pengguna Ruangguru diklaim naik 50 persen dan pendapatannya 4 kali lebih besar dari tahun 2019.

Perkembangan industri edtech tanah air tampak menggembirakan. Padahal menurut RedSeer (perusahaan riset pasar), tingkat konversi pengguna tanah air dari layanan gratis ke premium untuk sektor edukasi tergolong rendah.

Meski sejauh ini kedua startup mengandalkan model bisnis freemium, Ruangguru dan Zenius mulai merambah ke dunia les yang lebih menjanjikan.

Rita Fong, seorang warga Jakarta dengan tiga orang anak usia sekolah, merupakan salah satu anggota dari segmen pengguna ini. Meski anak-anaknya menggunakan Google Classroom untuk sekolah daring, Ruangguru juga masih punya peran yaitu membantu anak sulungnya mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Peningkatan pendapatan Ruangguru yang pesat juga berkat sumber penghasilannya yang lain. Salah satunya adalah Kartu Prakerja, proyek pemerintah di mana Ruangguru berperan sebagai mitra penyedia materi belajar melalui program Skill Academy.

Ruangguru mengatakan bakal mendonasikan semua penghasilan yang diperolehnya dari proyek tersebut. Artinya, peningkatan pendapatan Ruangguru mungkin lebih sedikit dari apa yang semestinya.

Ruangguru mengatakan angka pengguna aktif dari data pihak ketiga “tidak konsisten” dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Daripada fokus ke akuisisi pengguna melalui layanan gratis, kami memastikan bahwa strategi monetisasi tetap solid, terbukti dari kemampuan kami menarik investor baru tahun ini,” ujar Anggini Setiawan, Head of Corporate Communications Ruangguru.

Baca Juga  Ruang Guru Profit, Peluang Guru dan Kreator Berpotensi Berpenghasilan Ratusan Miliar

Apakah kesuksesan edtech bakal tetap berlanjut pasca-pandemi?

Bagi Rita, perubahan proses belajar menjadi sekolah daring awalnya terlihat sebagai berkah. Ia menghabiskan banyak waktu mengantar dan menjemput anak-anaknya ke sekolah melewati macetnya Jakarta sebelum pandemi.

Namun setelah pemberlakuan pembatasan sosial berlangsung setahun lebih, kelemahan sekolah daring juga jadi terlihat. Ia sekarang harus mengawasi anak-anaknya ketika belajar, tanggung jawab yang sebelumnya diserahkan sepenuhnya ke guru.

“Kadang mengawasi anak belajar bisa jadi merepotkan,” ujarnya.

Tan dari Insignia mengatakan bahwa tingkat adopsi edtech yang melejit bukan berarti jadi tanda “next big thing.”

“Tingkat adopsi yang meningkat karena faktor eksternal bukan berarti bukti bahwa sebuah produk cocok dengan pasar atau bahkan berkembang,” tambahnya. “Meski perusahaan edtech diuntungkan dengan pandemi, problem utama dan celah di sistem edukasi negara akan terus ada, bahkan ketika siswa kembali belajar di ruang kelas sekolah.”

Beberapa orang yakin bahwa produk yang cocok dengan pasar adalah yang bisa memadukan pendekatan online-to-offline (O2O). Edtech seperti itu jugalah yang akan digunakan oleh Rita ketika pandemi mereda. Ia menyebutkan tak akan membuat anak-anaknya bergantung 100 persen pada tempat belajar daring.

“Bagi saya, tak ada yang salah bila sekolah-sekolah terus melakukan proses belajar-mengajar daring. Tapi di saat bersamaan, pemerintah harus memperjelas mata pelajaran, tes, dan bagian edukasi mana yang sebaiknya dilakukan secara luring,” ujarnya. “Sistem belajar luring tak bisa sepenuhnya digantikan, terutama ketika pandemi sudah mereda.”

Partner RedSeer Roshan Raj setuju bahwa fokus setelah pandemi akan berubah dari mayoritas belajar daring ke paduan belajar daring dan luring. Selain itu, perkembangan edtech diprediksi akan melambat.

“Kesempatan ini bersifat struktural,” tambahnya. “Karena itu model yang mendorong perkembangan pengguna dan monetisasi yang konsisten tak boleh goyah ke depannya.”

Ruangguru juga sadar akan itu. Bahkan sebelum pandemi, perusahaan meluncurkan Brain Academy, sebuah program tutor O2O yang sudah memiliki 36 titik di seluruh Indonesia.

Satu lagi perusahaan yang menawarkan produk belajar O2O adalah HarukaEdu yang menyediakan layanan pendidikan untuk kampus dan perusahaan. Portal belajarnya, Pintaria, menawarkan sesi belajar daring dan luring, kursus belejar daring, serta berbagai kursus lainnya. Sementara itu Brainly dan Qanda tetap bertahan dengan strategi online-only.

Menyambut tantangan yang lebih besar

Pada akhirnya, bukan rahasia lagi bahwa sistem edukasi Indonesia punya banyak masalah. Beberapa di antaranya mungkin lebih besar untuk ditangani oleh edtech.

Perkembangan infrastruktur tanah air belum optimal. Perusahaan edtech pun berpotensi memperbesar jurang dalam mencapai kesetaraan kesempatan belajar, kata Patrya Pratama selaku Executive Director INSPIRASI Foundation.

Ketidaksetaraan juga jadi salah satu alasan utama di balik pengetatan peraturan perusahaan edtech di Cina. Namun faktor geografi juga jadi faktor yang sama pentingnya dengan penghasilan orang tua ketika kita membahas akses edukasi di Indonesia.

Baca Juga  3 Rahasia Investor Menghitung Valuasi Startup Tahap Awal

Sinyal internet yang memadai di Pulau Jawa saja tidak merata, ujar Patrya menunjuk ke statistik internet Indonesia. Banyak siswa tak mampu juga berada di luar Pulau Jawa.

Memberi akses teknologi ke daerah-daerah yang kurang terjangkau bisa membawa lebih dari 45 juta siswa wajib belajar 12 tahun ke dunia digital. Tapi di sini jugalah tantangannya jadi semakin sulit.

Sebagai contoh, produk les akan tetap jadi salah satu sumber pendapatan utama untuk startup edtech. Tapi layanan tersebut jelas mengincar orang tua dari golongan mampu di kota-kota besar.

Menjangkau tempat di luar kota besar memerlukan kerja sama dengan pemangku kepentingan lain, terutama pemerintah, yang punya kepentingan dan prosedur kerja yang berbeda. Selain itu rendahnya penghasilan masyarakat di luar kota besar mungkin membuat startup edtech kesulitan melakukan monetisasi layanannya.

Kita bisa berharap perusahaan-perusahaan lokal akan mengatasi masalah kesetaraan edukasi ini. Memang benar, Ruangguru dan Zenius sudah membuat upaya untuk merangkul siswa di luar kota-kota besar.

Zenius sudah mendistribusikan materi belajar ke daerah terpencil di Indonesia melalui program ZenBox. Sementara itu Ruangguru menawarkan kurikulum belajar yang harganya 10 persen lebih murah daripada kurikulum sekolah.

Strategi lainnya adalah meningkatkan kualitas guru dan petinggi sekolah yang sudah ada. Ini adalah fokus utama untuk perusahaan nirlaba Pratama. Ia menyorot bahwa 70 persen petinggi sekolah di Indonesia punya kompetensi di bawah standar nasional. (Ruangguru dan Zenius masing-masing punya program pengembangan kompetensi guru.)

Upaya ini bisa dibilang mirip dengan pivot e-commerce ke daerah terpencil dalam beberapa tahun terakhir yang diprakarsai oleh sederet unikorn dan startup lokal. Nadiem Makarim yang saat ini menjabat sebagai menteri pendidikan juga bisa mempermulus upaya tersebut. Ruangguru bahkan sudah belajar langsung bahwa mencampuradukkan bisnis dengan politik bukanlah hal mudah.

Pada akhirnya, Pratama juga yakin bahwa model O2O akan jadi yang paling cocok untuk siswa Indonesia. Karena itu sebaiknya ada integrasi antara aplikasi edtech dengan praktik mengajar sehari-hari.

“Ada kecenderungan di mana penggunaan aplikasi edtech berarti melewati kualitas guru yang rendah. Padahal sebenarnya baik medium belajar daring harus diguanakan sebagai pendamping sembari proses belajar luring ditingkatkan,” ujarnya.

(Visited 66 times, 1 visits today)