Ruang Guru Profit, Peluang Guru dan Kreator Berpotensi Berpenghasilan Ratusan Miliar

Ruang Guru – Kegiatan pemasaran yang jorjoran dikeluarkan Ruang guru dalam beberapa tahun terakhir mulai membuahkan hasil. Di tahun 2019 lalu, biaya yang dikucurkan Ruangguru untuk keperluan pemasaran mencapai US$28 juta (Rp397 miliar), membengkak 7 kali lipat dari tahun 2018. Sementara biaya penjualan—yang terkait dengan tenaga penjualan seperti komisi dan subsidi transportasi—juga meningkat sebesar 11 persen.

Baru di tahun 2020, mereka akhirnya bisa meraih profit. Dari menderita rugi operasional sebesar US$31,9 juta (Rp452 miliar) di 2019, menjadi laba US$1,8 juta (Rp25 miliar) di tahun 2020. Sementara itu, total pendapatan setahun ada di US$63 juta (Rp893 miliar).

Ruangguru meraih laba meskipun biaya pemasaran mereka pangkas sebesar 16 persen di 2020 jadi hanya US$23,6 juta (Rp335 miliar) saja.

Video pendidikan untuk siswa wajib belajar 12 tahun masih menjadi produk unggulan Ruang guru.  Salah satu sumber Tech in Asia yang terlibat dalam pembuatan konten edukasi Ruangguru menyebut bahwa keunggulan dari bisnis ini adalah konten yang telah diproduksi memiliki masa pakai yang cukup lama. Di awal memang butuh biaya untuk memproduksi beragam konten, tetapi setelahnya perusahaan bisa terus menggunakannya hingga bertahun-tahun.

“Kalaupun ada revisi paling penyesuaian materi, jarang dan enggak rombak dari nol. Kecuali ada perubahan materi ajar atau ada cara penyampaian baru yang lebih efektif,” jelasnya.

Ruang guru tidak memerinci berapa banyak penjualan produk ini, tetapi juru bicara Ruang guru menyatakan bahwa jumlah pengguna mereka di pertengahan 2021 ini sudah menyentuh 25 juta pengguna, naik hingga 50 persen dari angka Agustus 2020.

Namun, yang juga menarik adalah bisnis bimbingan belajar privat dan juga konten video untuk kalangan di luar usia sekolah. Keduanya berpotensi menghasilkan ratusan miliar bagi Ruangguru.

Kartu Prakerja dorong Skill Academy Ruang Guru

Skill Academy adalah platform edukasi berbasis video untuk kalangan di luar usia sekolah yang ingin mempelajari kecakapan spesifik, seperti pemrograman, pemasaran, dan public speaking. Konten video yang ada di platform ini laris dibeli oleh pengguna, khususnya berkat kehadiran Program Kartu Prakerja dari pemerintah.

Mengacu pada situs mereka, setiap produk yang mendapat label Prakerja memiliki ribuan hingga puluhan ribu ulasan pembeli. Contohnya untuk kelas Strategi Berjualan Online yang dijual dengan harga Rp550.000, sudah mendapat lebih dari 10.000 ulasan. Dengan asumsi dasar bahwa hanya mereka yang sudah membeli saja yang bisa memberikan ulasan, dari satu kelas itu saja Ruangguru sudah bisa mengantongi Rp5,5 miliar.

Padahal, untuk memproduksi satu konten video Skill Academy, Ruangguru tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Berbeda dengan video pendidikan untuk kalangan sekolah yang mayoritas dikerjakan oleh tenaga in-house, untuk Skill Academy pihak Ruangguru kerap menggandeng praktisi industri dari eksternal untuk menjadi pemberi materi. 

Baca Juga  11 Cara Menghitung Valuasi Startup Di Tahap Awal

Tech in Asia sudah menghubungi Ruang guru untuk meminta tanggapan tentang perhitungan ini. Namun hingga artikel ini diturunkan, kami belum menerima tanggapan.

Dua pemateri Skill Academy, Rara dan Budi (bukan nama sebenarnya) mengaku bahwa skema kerja sama yang mereka terima dari Ruangguru adalah pembayaran lepas (fixed fee) per konten. Keduanya juga menyebut nominal yang diterima di bawah Rp5 juta. Namun, Budi meyakini bahwa nominal tersebut akan berbeda di setiap kasus sesuai dengan kapasitas dan popularitas pemateri.

Selain pengisi materi, biaya lain yang perlu dikeluarkan oleh Ruangguru adalah tenaga in-house untuk mengawal proses produksi dan pascaproduksi, serta berbagai perlengkapan produksi seperti kamera, microphone, green screen, dan pencahayaan. Namun, angka yang dikeluarkan relatif jauh lebih kecil jika dibandingkan potensi pendapatan yang terus melesat didorong oleh Kartu Prakerja.

Dalam pembuatan konten, seluruh kebutuhan pendukung diceritakan oleh Rara memang disediakan oleh Ruang guru. Ruang guru juga sudah menyiapkan panduan materi untuk dibawakan, nanti Rara dan Budi hanya perlu mengoreksi materi yang tidak lagi relevan atau menambahkan materi yang mereka rasa perlu untuk diulas lebih jauh.

Secara umum Rara menilai produksi konten untuk Ruangguru bukan suatu hal yang menyita banyak energi dan waktu. Namun, ia tetap berharap agar skema kerja sama diubah dari fixed fee menjadi revenue sharing sehingga makin banyak produk terjual maka makin besar pendapatan yang ia terima sebagai pemateri.

Sementara itu, Budi melihat fixed fee masih menjadi opsi yang terbaik. Pasalnya, ia melihat larisnya produk Skill Academy masih sangat bergantung dengan Kartu Prakerja. Ia masih ragu apabila program tersebut akhirnya dihentikan, penjualan materi Skill Academy masih akan sederas sekarang.  

“Apalagi kalau nanti pilihan materi makin banyak, untuk bisa menjual materi kami akan makin sulit dan akhirnya antar-materi bisa-bisa perang harga kalau enggak dimoderasi,” jelasnya. Budi menilai hal tersebut tidak hanya menyulitkan kreator, tetapi juga bisa menghambat kematangan ekosistem e-learning.

Namun pihak Ruang guru belum perlu cemas tentang kinerja Skill Academy pasca-Program Prakerja dihentikan pasalnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sudah menyatakan bahwa program Kartu Prakerja akan terus berlanjut di tahun 2022, dengan anggaran yang direncanakan sebesar Rp11 triliun.

Hingga November 2021, pemerintah sudah merealisasikan Rp11,6 triliun dari anggaran program tahun ini dan disalurkan ke 5,93 juta penerima Kartu Prakerja. Sementara itu, di tahun 2020 lalu penerima Kartu Prakerja ada 5,3 juta, dengan total insentif tersalurkan Rp13,35 triliun.

Para peserta Kartu Prakerja berhak mendapatkan biaya pelatihan sebesar Rp1 juta dan peserta yang sudah menyelesaikan pelatihan akan mendapatkan insentif sebesar Rp600.000 per bulan untuk jangka waktu empat bulan.

Perlu dicatat, keterlibatan Ruang guru di Kartu Prakerja pernah menjadi kontroversi. Ruangguru ditunjuk sebagai mitra platform digital resmi untuk Kartu Prakerja saat co-founder mereka, Belva Devara, menjabat sebagai Staff Khusus Presiden. Kondisi ini membuat banyak pihak menuduh adanya konflik kepentingan.

Baca Juga  6 Strategi Monetisasi Startup Edutech Indonesia

Menyikapi ini, Belva pun kemudian memutuskan mundur dari posisi tersebut, dan Ruangguru juga menarik diri dari mitra resmi. Seluruh pendapatan yang diterima Ruang guru selama menjadi mitra resmi telah disumbangkan ke negara untuk membantu penanganan Covid-19, dan kini Ruangguru hanya berperan sebatas lembaga penyedia pelatihan.

Tech in Asia sudah mencoba mengonfirmasi apakah hingga hari ini Ruangguru masih mendonasikan pemasukan dari Kartu Prakerja, atau donasi hanya terbatas saat mereka menjadi mitra platform digital resmi saja. Namun, belum ada tanggapan.

Ratusan miliar dari les privat

Ruangguru juga memiliki produk bernama Ruangles, yang memungkinkan pengguna untuk mencari dan menyewa jasa les privat sesuai kebutuhan.

Ajeng, guru bahasa Inggris mitra Ruangles ( seon) menyatakan sejak awal bergabung tarif mengajar sudah ditentukan oleh Ruangguru. Rentang yang ditawarkan adalah Rp100.000—Rp150.000 per untuk sesi mengajar hingga 90 menit.

Ajeng menilai tarif yang ditawarkan oleh oleh Ruangguru sudah cukup bijak. Angkanya memang tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak di bawah harga pasar.

Dari setiap sesi, Ajeng menyebut Ruangguru mengambil komisi sebesar 30 persen. Nantinya besaran upah yang ia terima sudah bersih dipotong komisi dan pajak. Rata-rata, ia bisa mengantongi Rp850.000 dari satu murid per bulan dengan jumlah pertemuan 8 sesi per bulan.

Mengacu pada kasus Ajeng, Ruangguru bisa mendapatkan pemasukan sebesar Rp360.000 per bulan dari setiap guru les. Jika klaim di situs resmi Ruangguru yang menyebut mereka mengelola lebih dari 300.000 guru les privat di Indonesia akurat, potensi pendapatan dari produk Ruangles adalah Rp108 miliar per bulan. 

Perlu dicatat angka tersebut didapat dengan asumsi bahwa setiap guru yang yang ada di platform Ruangguru aktif mengajar setidaknya satu murid per bulan dengan jumlah 8 sesi per bulan. Ruangguru belum memberi tanggapan tentang akurasi perhitungan ini.

Sebagai pelaku di lapangan, Ajeng optimistis model bisnis ini masih potensial hingga beberapa tahun ke depan. Pasalnya, bimbingan belajar secara privat sudah lumrah bagi masyarakat Indonesia, khususnya untuk kalangan menengah ke atas. Ia juga melihat bahwa kalangan guru privat bisa beradaptasi dengan mulus merespons kehadiran pandemi yang memicu lahirnya tren belajar jarak jauh. Bahkan, tren belajar jarak juga membuat sektor ini makin potensial karena guru les bisa memperluas jangkauan pasarnya.

“Semenjak pandemi, murid saya justru banyak yang dari Jabodetabek,” jelas Ajeng yang sebelumnya hanya bisa mengajar murid yang tinggal di sekitar area Yogyakarta tempat ia berdomisili.

Dini, guru ilmu sosial untuk pelajar SMP dan SMA yang juga mengajar lewat Ruangles menambahkan bahwa kehadiran pembelajaran virtual membuat proses mengajar jadi lebih efisien waktu. Selama pengajaran offline ia tidak bisa melakukan sesi dalam waktu yang berdekatan karena ia butuh waktu untuk mobilisasi dari satu rumah murid ke rumah lainnya. Namun kini, masalah itu tidak lagi relevan.

Baca Juga  Mengapa Startup Edutech Populer Indonesia Belum Jadi Pilihan Utama Siswa ?

“Kalau via Zoom, misal beres ngajar jam 15.30, jam 16.00 sudah bisa ngajar lagi. Itupun masih dapat jatah leyeh-leyeh sebentar.”

Dini melihat ini membuat guru jadi lebih rajin dalam mencari murid. Sistem Ruangles juga ia sebut sangat membantu. Kini guru privat tidak perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk mempromosikan diri demi mendapat murid baru. Mereka hanya perlu aktif memantau aplikasi Ruangguru dan merespons apabila ada permintaan mengajar baru.

Akselerasi digital Ruang Guru selama pandemi

Keberlanjutan tren positif edtech seperti Ruangguru tentu tidak bisa dipisahkan dari perkembangan positif ekosistem digital Indonesia secara umum. Berdasarkan riset Google, Temasek, dan Bain and Company, pandemi membawa 21 juta pengguna produk digital baru hingga semester I 2021. Ini merupakan indikasi yang baik karena penetrasi internet yang makin merata.

Riset yang sama juga menyebut bahwa perubahan perilaku ini akan bersifat permanen, dengan 96 persen dari pengguna baru tersebut kini masih menggunakan layanan digital, dan 99 persen menyatakan akan tetap menggunakannya di masa depan.

Sementara itu, untuk segmen edtech, sinyal baik juga bisa dilihat dari data yang menyatakan aplikasi pendidikan di Asia Tenggara diunduh 20 juta kali sepanjang Januari—Agustus 2020. Jumlahnya naik tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yaitu enam juta unduhan. Angka di tahun 2021 bisa jadi akan lebih tinggi.

Di sisi lain, riset tersebut menyebut tantangan terbesar bagi para pemain edtech adalah isu skalabilitas. Konten pendidikan yang menjadi jualan utama para edtech dinilai memiliki batasan geografis. Artinya, konten pendidikan di Indonesia tidak bisa dipasarkan untuk negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia atau Singapura. Saat skala perusahaan tumbuh dan akhirnya melakukan ekspansi, mereka harus memulai pembuatan konten nyaris dari nol.

Optimisme juga ditunjukkan oleh Willson Cuaca dari East Ventures. Ia menyebut, pemulihan kondisi industri setelah pandemi akan membentuk huruf K. Akan ada sektor yang lesu, tetapi ada yang justru menemukan momentum untuk tumbuh.

“Sektor yang high-touch activity seperti ritel dan restoran akan terdampak negatif. Sementara yang low-touch activity seperti online education dan online meeting, grafik [kinerjanya] akan naik,” jelasnya.

Ia juga meyakini Ruangguru akan merasakan dampak positif dari populasi Indonesia yang besar dan angka penetrasi internet yang terus tumbuh. Dan yang terpenting, pasar sebesar ini memiliki karakter yang homogen, yaitu menggunakan bahasa yang sama. Ini memudahkan pengembangan sebuah produk digital

“Karena kualitas guru di Indonesia sendiri sangat tersebar [tidak merata], maka online education bisa jadi alternatif untuk meratakan kualitas pendidikan di Indonesia.”

(Visited 107 times, 1 visits today)